Pada tahun 1973, lahan seluas sekitar satu hektare dibeli secara pribadi oleh Keluarga Badiyun, yang pada saat itu bertugas di Provinsi Riau sebagai anggota militer. Awalnya, kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai lahan agrokompleks terpadu yang meliputi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan darat. Oleh: Tim Edukasi dan Publikasi Yayasan Kiandra Setia Bangsa Abstrak Taman Rekreasi Alam Mayang merupakan salah satu pionir destinasi wisata berbasis lingkungan (eco-tourism) di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai destinasi rekreasi keluarga, tetapi juga memiliki nilai historis, ekologis, sosial, dan ekonomi yang penting bagi perkembangan wilayah perkotaan. Artikel ini mengkaji latar belakang sejarah, evolusi fungsi lahan, serta dinamika pengelolaan Alam Mayang sejak awal perintisan pada tahun 1973 hingga perkembangannya pada era modern. Melalui pendekatan deskriptif-historis berbasis studi pustaka, tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman edukatif kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan. Pendahuluan Pertumbuhan kota yang pesat sering kali diikuti oleh berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) akibat alih fungsi lahan untuk kepentingan permukiman, industri, maupun infrastruktur. Di tengah dinamika urbanisasi Kota Pekanbaru, keberadaan Taman Rekreasi Alam Mayang menjadi contoh nyata bagaimana kawasan hijau dapat dipertahankan sekaligus dimanfaatkan secara produktif untuk kepentingan masyarakat. Berlokasi di Jalan H. Imam Munandar, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Alam Mayang hadir sebagai ruang publik yang mengintegrasikan fungsi rekreasi, edukasi, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Keberadaannya menjadi bukti bahwa pembangunan yang berwawasan lingkungan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Fase Perintisan Lahan: Agrokompleks Terpadu (1973–1987) Transformasi Alam Mayang diawali dari pemanfaatan lahan produktif yang dirintis secara bertahap dan berkelanjutan. Pada tahun 1973, lahan seluas sekitar satu hektare dibeli secara pribadi oleh Keluarga Badiyun, yang pada saat itu bertugas di Provinsi Riau sebagai anggota militer. Awalnya, kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai lahan agrokompleks terpadu yang meliputi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan darat. Aktivitas budidaya tanaman pangan, peternakan sapi, serta pengembangan kolam ikan dilakukan secara intensif dengan dukungan pembinaan dari instansi pemerintah terkait. Berkat pengelolaan yang produktif dan berkelanjutan, luas lahan berkembang hingga mencapai sekitar 10–15 hektare. Pada pertengahan dekade 1980-an, kawasan ini bahkan dipercaya mendukung program pertanian yang berkaitan dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), sehingga memperkuat posisinya sebagai kawasan agraris produktif di wilayah Pekanbaru. Fase Transisi Menuju Kawasan Wisata Alam (1988–1993) Tingginya aktivitas masyarakat di sekitar kawasan pertanian dan perikanan mendorong pemilik untuk melakukan transformasi fungsi lahan menjadi kawasan wisata alam terbuka. Pada tanggal 7 Januari 1988, kawasan ini secara resmi mulai dialihkan fungsinya dari sektor agraris menuju sektor pariwisata berbasis alam. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 11 Januari 1988, Alam Mayang mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan wisata perdana berupa lomba memancing. Selama beberapa tahun berikutnya, kawasan ini dibuka secara terbatas tanpa pungutan biaya sebagai bagian dari proses pembenahan fasilitas, penataan lanskap, dan pembangunan sarana penunjang. Puncaknya, pada tanggal 3 Januari 1993, Taman Rekreasi Alam Mayang resmi beroperasi secara komersial dengan luas kawasan mencapai sekitar 24,5 hektare. Sejak saat itu, Alam Mayang berkembang menjadi salah satu destinasi wisata keluarga terkemuka di Kota Pekanbaru. Dinamika Kepemilikan dan Tata Kelola Keberhasilan Alam Mayang tidak terlepas dari kesinambungan tata kelola berbasis keluarga yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Generasi Pertama: Masa Perintisan Pada fase awal, pengelolaan kawasan dilakukan langsung oleh Keluarga Badiyun sebagai pendiri. Fokus utama pengembangan diarahkan pada penataan lingkungan, penghijauan kawasan, pembangunan danau buatan, serta penciptaan iklim mikro yang sejuk dan nyaman bagi pengunjung. Pendekatan yang mengutamakan keseimbangan antara aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi fondasi utama perkembangan Alam Mayang hingga saat ini. Generasi Kedua: Modernisasi dan Edu-Tourism Memasuki era modern, pengelolaan Alam Mayang diteruskan oleh putra sulung pendiri, Drs. Riyono Gede Trisoko, M.M. Di bawah kepemimpinannya, Alam Mayang melakukan berbagai inovasi dan re-branding sejak tahun 2005 dengan mengusung konsep wisata edukatif (edu-tourism). Berbagai fasilitas baru dikembangkan, antara lain wahana outbound, ruang konvensi terbuka, fasilitas rekreasi keluarga, serta berbagai replika budaya khas Riau. Pengembangan tersebut tetap mempertahankan karakter utama Alam Mayang sebagai kawasan hijau yang alami dan ramah lingkungan. Nilai Edukatif dan Kontribusi Sosial-Ekologis 1. Konservasi Lingkungan Perkotaan Sebagai salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Kota Pekanbaru, Alam Mayang memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekologis perkotaan. Keberadaan vegetasi yang padat berfungsi sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, daerah resapan air, serta mitigasi polusi udara dan efek pulau panas perkotaan (urban heat island effect). 2. Media Edukasi Budaya dan Lingkungan Berbagai replika budaya Melayu Riau, artefak tradisional, serta lanskap alam yang tertata menjadikan Alam Mayang sebagai sarana pembelajaran terbuka bagi generasi muda. Kawasan ini memungkinkan pengunjung memperoleh pengalaman edukatif mengenai sejarah, budaya, dan pentingnya pelestarian lingkungan secara langsung. 3. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Aktivitas wisata di Alam Mayang turut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), penyedia jasa wisata, serta sektor informal lainnya. Dengan demikian, kawasan ini memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Tantangan dan Prospek Ke Depan Sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan, Alam Mayang menghadapi berbagai tantangan, antara lain meningkatnya tekanan urbanisasi, kebutuhan pemeliharaan infrastruktur, serta perubahan preferensi wisata masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis yang berkelanjutan, antara lain: Memperkuat konsep eco-tourism berbasis konservasi lingkungan. Meningkatkan digitalisasi layanan dan promosi pariwisata. Memperluas kolaborasi dengan lembaga pendidikan untuk kegiatan edukasi lingkungan. Memperkuat program pengelolaan sampah dan pelestarian keanekaragaman hayati. Mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan wisata. Kesimpulan Taman Rekreasi Alam Mayang Pekanbaru merupakan bukti nyata bahwa komitmen terhadap pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi dan pariwisata. Berawal dari kawasan agrokompleks sederhana pada tahun 1973, Alam Mayang berhasil bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata lingkungan di Provinsi Riau. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi pengelolaan lintas generasi yang menempatkan aspek konservasi sebagai fondasi utama pembangunan. Yayasan Kiandra Setia Bangsa memandang bahwa model pengelolaan seperti yang diterapkan di Alam Mayang patut dijadikan inspirasi dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia. Pelestarian ruang terbuka hijau, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat harus terus diperkuat demi mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Penulis: Tim Edukasi dan Publikasi Yayasan Kiandra Setia BangsaKategori: Publikasi Ilmiah dan Edukasi PublikKontak: Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa Post navigation Dinamika Ekologis Ruang Terbuka Hijau: Sejarah, Perkembangan, dan Peran Konservasi Taman Satwa Kasang Kulim (1991–2026). Komparasi Arsitektur Sakral Sumatra Kuno: Menelusuri Jejak Peradaban Sriwijaya melalui Candi Muara Takus dan Candi Muaro Jambi