PEKANBARU, KIANDRAUPDATE.COM  – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Riau secara resmi telah merampungkan konsolidasi struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) di 12 kabupaten/kota. Kendati struktur tingkat makro telah terbentuk 100 persen, tantangan nyata kini beralih pada penguatan akar rumput di tingkat kecamatan hingga desa, salah satunya di wilayah krusial, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Dalam proyeksi Pemilu 2029, PSI Riau menetapkan target ambisius, yakni mengamankan 60 kursi DPRD di seluruh wilayah Riau. Khusus untuk Kabupaten Indragiri Hilir, partai yang identik dengan generasi muda ini membidik target satu fraksi penuh atau minimal 6 kursi di DPRD Kabupaten Inhil.

Tantangan Geografis dan Penetrasi Struktur Ranting

Upaya PSI untuk menembus konstelasi politik di Indragiri Hilir dihadapkan pada karakteristik geografis wilayah yang sangat menantang. Sebagai daerah yang dijuluki “Negeri Seribu Parit”, Inhil didominasi oleh kawasan perairan, pulau-pulau kecil, serta perkebunan kelapa yang luas dengan akses transportasi yang terbatas.

Ketua DPW PSI Riau, Kelmi Amri, dalam wawancara eksklusif bersama Kiandraupdate.com  menyatakan bahwa struktur DPD Inhil saat ini tengah memprioritaskan pembentukan Pengurus Ranting (DPRt) untuk menyentuh masyarakat rural.

“Secara administratif, kepengurusan DPD di Indragiri Hilir sudah sah dan terkonsolidasi. Namun, ujian sesungguhnya adalah bagaimana para kader di Inhil mampu membangun struktur hingga ke tingkat desa dan parit-parit terpencil. Tantangan geografis di Inhil menuntut manajemen logistik yang kuat dan militansi kader yang tidak biasa,” ujar Kelmi Amri di Pekanbaru, Senin (1/6).

Komunikasi Politik dan Pendekatan Kultural Agrokultural

Selain faktor geografis, tantangan terbesar PSI di Indragiri Hilir terletak pada segmentasi pemilih. Karakteristik sosiologis masyarakat Inhil sangat kental dengan kultur Melayu-Muslim yang agraris, di mana sektor perkebunan kelapa dan kelapa sawit menjadi urat nadi perekonomian warga.

Di sisi lain, citra PSI secara nasional cenderung melekat kuat pada narasi kaum urban dan pemilih muda perkotaan. Kelmi Amri mengakui adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah gaya komunikasi politik partai agar selaras dengan kebutuhan lokal masyarakat Inhil.

“Kami tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi politik perkotaan atau isu-isu yang berkembang di tingkat pusat. Kader PSI di Indragiri Hilir harus hadir membawa solusi konkret terkait stabilitas harga kelapa, perbaikan tanggul mekanik, dan infrastruktur jalan yang menjadi keluhan utama para petani di sana. Kami harus melebur dengan kearifan lokal,” tambahnya.

Optimalisasi Figuritas Lokal Menuju 2029

Pengamat politik lokal menilai bahwa ketergantungan pada efek ekor jas (coat-tail effect) dari tokoh-tokoh nasional tidak akan cukup untuk memenangkan kursi di daerah pemilihan (dapil) Indragiri Hilir yang terkenal kompetitif. PSI Inhil dituntut untuk melahirkan kader-kader lokal yang memiliki rekam jejak mumpuni di mata masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kelmi menegaskan bahwa proses kaderisasi di Inhil akan difokuskan pada penjaringan tokoh pemuda dan penggiat sosial yang memahami anatomi masalah di daerahnya sendiri. Dengan struktur DPD yang kini telah resmi terbentuk, PSI Indragiri Hilir memulai langkah panjangnya. Keberhasilan mereka merebut 6 kursi pada 2029 akan sangat ditentukan oleh konsistensi pengurus dalam menaklukkan tantangan geografis dan memenangkan hati masyarakat agraris di Bumi Sri Gemilang. (red/kiandraupdate.com )-wdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *