KAMPAR — Upaya menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan ramah bagi peserta didik penyandang disabilitas terus dikembangkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan. Salah satunya melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai yang memperkenalkan inovasi pembelajaran berbasis visual LENS-ART (Literacy Enhancement through Visual Support) di SMAN 2 Tapung, Kabupaten Kampar.

Program yang mengangkat tema “LENS-ART: Transformasi Gaya Belajar Siswa Disabilitas melalui Modul Bacaan Berbasis Grafis di SMA Kabupaten Kampar” tersebut memperoleh pendanaan melalui skema PKM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.

Inovasi ini dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran yang lebih adaptif bagi siswa disabilitas, terutama dalam mengakses dan memahami materi pembelajaran yang selama ini banyak disajikan dalam bentuk teks konvensional.

Ketua Tim PKM, Dr. Putri Asilestari, M.Pd., menjelaskan bahwa setiap peserta didik memiliki cara berbeda dalam menerima dan memahami informasi. Karena itu, diperlukan media pembelajaran yang mampu memberikan alternatif penyampaian materi secara lebih komunikatif dan mudah dipahami.

“Tidak semua siswa dapat memahami informasi dengan cara yang sama. LENS-ART dirancang untuk menghadirkan materi yang lebih komunikatif dengan memadukan teks, gambar, ilustrasi, ikon, simbol, hingga diagram sederhana untuk mendukung literasi visual mereka,” ungkap Dr. Putri Asilestari.

LENS-ART Hadirkan Pembelajaran Berbasis Visual

Program LENS-ART mengedepankan penggunaan modul bacaan berbasis grafis sebagai media pendukung pembelajaran. Materi tidak hanya disampaikan melalui tulisan, tetapi juga diperkaya dengan elemen visual yang dapat membantu siswa menghubungkan informasi, memahami konsep, serta mengikuti proses pembelajaran secara lebih interaktif.

Pendekatan tersebut menjadi penting dalam pendidikan inklusif karena kebutuhan belajar peserta didik tidak selalu dapat dipenuhi melalui satu metode pembelajaran yang sama.

Melalui pemanfaatan visual yang terstruktur, materi diharapkan dapat menjadi lebih komunikatif sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing.

Kolaborasi Akademisi dan Sekolah

Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada 3 Agustus 2026 di SMAN 2 Tapung dengan melibatkan tim akademisi, pihak sekolah, guru pendamping, serta peserta didik.

Kepala SMAN 2 Tapung, Dr. Hendra Yunal, S.Pd.I., M.Si., menyambut baik kolaborasi tersebut. Kehadiran program LENS-ART dinilai menjadi bagian dari dukungan perguruan tinggi terhadap pengembangan pembelajaran yang lebih efektif dan inklusif di lingkungan sekolah.

Tim pelaksana yang terdiri dari Dr. Citra Ayu, M.Pd. dan Dr. Putri Hana Pebriana, M.Pd., menerapkan pendekatan modul grafis untuk membantu peserta didik mengakses materi secara lebih mandiri dan interaktif.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Akademisi dapat berkontribusi melalui inovasi dan riset, sementara sekolah menjadi ruang penerapan yang menyesuaikan inovasi tersebut dengan kebutuhan nyata peserta didik.

Memperkuat Hak dan Kesetaraan dalam Pendidikan

Pendidikan inklusif pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan keberadaan siswa disabilitas di lingkungan sekolah, tetapi juga memastikan mereka memperoleh kesempatan belajar, dukungan, serta akses terhadap materi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam konteks tersebut, inovasi seperti LENS-ART memiliki nilai strategis karena mendorong perubahan pendekatan pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi proses yang lebih adaptif terhadap keberagaman peserta didik.

Penguatan literasi visual juga dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu siswa memahami informasi melalui kombinasi berbagai bentuk representasi, mulai dari teks hingga gambar, simbol, ikon, dan diagram.

Selaras dengan Komitmen Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Inovasi LENS-ART sejalan dengan komitmen Yayasan Kiandra Setia Bangsa dalam mendorong pemerataan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Bagi Yayasan Kiandra Setia Bangsa, pendidikan yang inklusif merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia. Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh kesempatan berkembang dan mendapatkan lingkungan belajar yang mendukung, tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi maupun karakteristik peserta didik.

Pendekatan pembelajaran yang humanis, kreatif, adaptif, dan menghargai keberagaman menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan untuk berkembang dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa juga memandang kolaborasi antara akademisi, sekolah, pemerintah, dan masyarakat sebagai salah satu kunci untuk memastikan inovasi pendidikan tidak berhenti pada gagasan, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.

Program LENS-ART di SMAN 2 Tapung menjadi salah satu contoh bahwa inovasi pembelajaran dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan peserta didik secara lebih spesifik. Dengan dukungan pendampingan yang berkelanjutan, pendekatan semacam ini berpotensi memperkuat ekosistem pendidikan yang semakin inklusif, setara, dan berpusat pada peserta didik.

Pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang bagaimana materi disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana setiap peserta didik diberi kesempatan untuk memahami, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.

Tim Humas
Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *