PEKANBARU — Upaya pemulihan ekosistem hutan di Provinsi Riau kembali mendapat dukungan melalui aksi nyata penanaman pohon di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Pekanbaru.

Belantara Foundation bersama mitra sektor swasta asal Jepang, Resona Bank Ltd., melaksanakan penanaman bibit pohon secara simbolis di kawasan Tahura SSH pada Selasa (1/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mendukung pemulihan kawasan hutan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Penanaman simbolis kali ini merupakan tahap kedua yang melibatkan jajaran middle management Resona Bank Ltd. Sebelumnya, aksi serupa telah dilakukan oleh jajaran top management Resona Bank Ltd. pada Juli 2024.

Kegiatan tersebut turut melibatkan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat sebagai bagian dari pendekatan kolaboratif dalam upaya rehabilitasi dan pemulihan ekosistem.

Tanam Spesies Pohon Lokal dan Langka

Sejumlah spesies pohon lokal yang memiliki nilai ekologis ditanam dalam kegiatan tersebut, di antaranya kelat (Syzygium palembanicum), kandis (Garcinia parvifolia), dan balam (Palaquium hexandrum).

Pemilihan jenis pohon tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemulihan vegetasi dan keanekaragaman hayati di kawasan hutan yang mengalami tekanan dan degradasi.

Selain mendukung pemulihan ekosistem, kegiatan penanaman pohon juga diarahkan untuk berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya agenda perlindungan lingkungan, penanganan perubahan iklim, serta penguatan kemitraan global.

Aksi tersebut sekaligus menjadi momentum menuju Hari Ozon Internasional yang diperingati setiap 16 September, sebagai pengingat pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan memperkuat tindakan nyata menghadapi berbagai tantangan ekologis.

Dorong Aksi Global untuk Planet yang Lebih Sejuk

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut membawa semangat “Global action for a cooler planet”. Semangat itu diarahkan untuk mendorong semakin luasnya keterlibatan sektor swasta internasional dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dan pemulihan ekosistem di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra.

Kolaborasi antara lembaga konservasi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan.

Hal senada disampaikan Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian, serta Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si. Keduanya menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak untuk mendukung pemulihan kawasan Tahura Sultan Syarif Hasyim yang memiliki luas lebih dari 6.000 hektare.

Keterlibatan masyarakat melalui Kelompok Tani Hutan juga menjadi unsur penting karena keberhasilan rehabilitasi hutan tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penanaman, tetapi juga oleh keberlanjutan pemeliharaan dan perlindungan tanaman setelah ditanam.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa Apresiasi Kolaborasi

Menanggapi aksi restorasi tersebut, Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyampaikan apresiasi terhadap langkah konkret yang dilakukan Belantara Foundation bersama Resona Bank Ltd., KPHP Minas Tahura, serta masyarakat lokal.

Menurutnya, upaya pemulihan kawasan Tahura SSH merupakan bentuk tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, lembaga konservasi, akademisi, komunitas, hingga masyarakat.

“Kami di Yayasan Kiandra Setia Bangsa sangat mendukung dan mengapresiasi langkah konkret yang dilakukan oleh Belantara Foundation, KPHP Minas Tahura, serta para mitra dari Jepang seperti Resona Bank Ltd. Upaya memulihkan ekosistem Tahura SSH bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga konservasi semata, melainkan tugas kita bersama,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan sektor swasta internasional dan masyarakat lokal melalui Kelompok Tani Hutan menunjukkan bahwa agenda pelestarian lingkungan dapat menjadi ruang kolaborasi multipihak yang memberikan manfaat jangka panjang.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan SDGs Goal 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

“Penanaman pohon-pohon langka ini memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas udara, keberlanjutan keanekaragaman hayati di Riau, serta upaya menahan laju perubahan iklim. Semoga aksi inspiratif ini dapat menular kepada lebih banyak elemen masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan lembaga lainnya untuk terus menjaga kelestarian bumi Indonesia,” pungkasnya.

Kolaborasi Menjadi Kunci Restorasi

Kegiatan penanaman di Tahura SSH memperlihatkan bahwa restorasi hutan membutuhkan proses panjang dan tidak berhenti pada penanaman bibit. Pemeliharaan, pengawasan, perlindungan kawasan, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Bagi Riau, keberadaan Tahura Sultan Syarif Hasyim memiliki arti strategis sebagai salah satu kawasan hutan yang berfungsi menjaga keseimbangan ekologis sekaligus menjadi bagian dari upaya mempertahankan keanekaragaman hayati.

Kolaborasi antara Belantara Foundation, Resona Bank Ltd., KPHP Minas Tahura, Kelompok Tani Hutan, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat menjadi contoh bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan komitmen bersama yang konsisten.

Restorasi hutan pada akhirnya bukan sekadar menanam pohon, tetapi membangun kembali ekosistem agar mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat untuk generasi sekarang maupun mendatang.

Penulis           : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Kategori         : Publikasi Ilmiah dan Edukasi Publik
Kontak           : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *