PEKANBARU, KIANDRAUPDATE.COM  – 2/6/2026 Provinsi Riau kembali menghadapi ancaman nyata dari bawah tanah. Pemerintah Provinsi Riau bersama 11 Pemerintah Kabupaten dan Kota resmi menetapkan status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Langkah cepat ini diambil menyusul mengganasnya titik api yang melalap puluhan hektar lahan gambut di tengah kepungan cuaca panas ekstrem menjelang puncak musim kemarau.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, saat ini hampir seluruh wilayah hukum di Riau kompak menaikkan status administrasi mereka. Namun, sorotan tertuju pada Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang tercatat sebagai satu-satunya wilayah yang belum menetapkan status serupa. Ketidakseragaman ini dikhawatirkan para pengamat dapat menghambat birokrasi, kecepatan distribusi anggaran darurat, serta pengerahan personel bantuan dari pusat.

Gambut Pelalawan Membara, Petugas Berjihad Lawan Angin

Di lapangan, situasi paling kritis terjadi di Kabupaten Pelalawan. Lebih dari 60 hektar lahan gambut dalam dilaporkan terbakar hebat. Tim satgas gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, dan relawan harus berjibaku melawan kepulan asap pekat dan embusan angin kencang yang sempat membuat api melompat secara sporadis.

Selain Pelalawan, wilayah pesisir seperti Siak dan Rokan Hilir juga terus dipantau ketat. Manggala Agni bergerak cepat melokalisasi garis api agar tidak merembet ke kawasan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di Riau yang kini berada pada kategori ekstrem. Artinya, serasah dan alang-alang di atas lahan gambut dalam kondisi sangat kering dan hanya butuh satu percikan kecil untuk memicu kebakaran hebat.

M. Widiarta: Karhutla Harus Dicegah dengan Sinergi Semua Pihak.

Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, M. Widiarta, ST., menegaskan bahwa persoalan karhutla sebenarnya dapat diantisipasi apabila seluruh pihak mampu membangun sinergi yang kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap tahun seolah menjadi rutinitas tahunan yang tidak pernah selesai. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menyalahkan satu pihak setiap kali bencana kabut asap terjadi.

Sebenarnya hal ini bisa diantisipasi oleh semua pihak, selama lembaga dan instansi terkait bersinergi. Hal ini terus terulang setiap tahun seperti rutinitas dan prosesi wajib bahwa ketika masuk musim kemarau dipastikan karhutla ini terulang. Jangan hanya menyalahkan satu pihak. Setiap terjadi karhutla ramai-ramai menyalahkan pemerintah, menuntut kerja cepat Satgas Karhutla, tetapi yang paling masif komentar justru hanya membuat statemen dari belakang meja,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih aktif memberikan edukasi terkait bahaya dan dampak kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kerusakan lingkungan jangka panjang.

Coba kita sama-sama memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang bahaya dan kerugian dari kebakaran hutan dan lahan ini. Mari kita bersinergi bersama-sama dan jangan menyalahkan satu pihak, kecuali kebakaran lahan yang berada di kawasan konsesi perusahaan yang memang menjadi tanggung jawab perusahaan dan boleh kita intervensi,” tegasnya.

Lebih lanjut, M. Widiarta menilai bahwa Satgas Karhutla selama ini telah bekerja keras tanpa mengenal waktu dalam melakukan pemadaman maupun pencegahan kebakaran di lapangan. Namun ironisnya, menurut dia, masih banyak pihak yang justru lebih mudah menghujat dibanding memberikan solusi nyata.

Satgas Karhutla sudah bekerja keras tanpa lelah, masih dihujat dan masih dituntut. Kenapa kita saat ini seperti tidak punya empati terhadap Satgas Karhutla? Dukung mereka dan berikan masukan solutif, bukan hanya mengkritik dan menuntut tetapi tidak punya solusi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa saat ini banyak saluran yang dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan pandangan, saran, maupun masukan yang konstruktif dalam upaya mengurangi karhutla di Bumi Lancang Kuning.

Mari bersama-sama kita bekerja sama, saling bahu membahu agar hal ini tidak terus terulang,” tutupnya.

Polusi Dumai Nyaris Tembus Batas Berbahaya

Berdasarkan pemantauan real-time indeks kualitas udara (AQI) dari stasiun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kualitas udara di Riau secara umum berada di kategori Sedang (AQI 51 – 98). Namun, warga diminta jangan lengah.

Kota Dumai, khususnya di Kecamatan Bukit Kapur, mencatat angka polusi tertinggi yakni 98-99 AQI, nyaris menyentuh batas kategori Tidak Sehat. Hal ini terjadi karena posisi Dumai berada tepat searah dengan embusan mata angin yang membawa pasokan asap dari titik kebakaran terdekat. Sementara itu, Kota Pekanbaru terpantau masih relatif aman di angka AQI 54 – 60.

Monsun Australia dan Harapan dari Langit

Ada sedikit kabar baik dari langit Riau. BMKG mendeteksi adanya dinamika atmosfer jangka pendek di tengah gempuran Monsun Australia yang kering. Hari ini, potensi hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir berpeluang mengguyur wilayah Dumai, Siak, dan Rokan Hilir pada sore hari. Hujan ini diharapkan mampu membantu mendinginkan bara api di dalam lapisan gambut dalam.

Posko Kesehatan Gratis & Kontak Darurat Disiagakan

Mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Dinas Kesehatan Provinsi Riau langsung menginstruksikan seluruh Puskesmas di wilayah terdampak untuk bersiaga 24 jam dan memberikan pelayanan pengobatan gratis bagi warga yang mengeluhkan sesak napas atau iritasi mata.

Bagi masyarakat yang melihat titik api baru atau membutuhkan evakuasi medis darurat di rumah, pemerintah telah membuka jalur pengaduan cepat:

  • Call Center Utama BPBD Riau: 0811-7612-000
  • Darurat Ambulans & Medis: 119 (PSC 24 Jam)
  • Pengaduan Pembakaran Liar (Polri): 110

Masyarakat diimbau keras untuk sepenuhnya menghentikan aktivitas membuka lahan dengan cara dibakar dan selalu mengenakan masker medis atau N95 saat beraktivitas di luar ruangan. (Red/kiandraupdate.com )-wdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *