PEKANBARU — Transformasi sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Kota Pekanbaru. Perubahan paradigma dari sistem konvensional “angkut lalu buang” menuju pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan persampahan yang selama ini menjadi tantangan perkotaan. Momentum tersebut muncul setelah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru merespons dorongan Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap tata kelola persampahan yang direncanakan mulai diterapkan pada tahun 2026. Langkah tersebut dipandang bukan sekadar perubahan teknis dalam pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi awal lahirnya budaya baru yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., menyampaikan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat sejak dari sumber penghasil sampah. “Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Ketika masyarakat memiliki kesadaran memilah, mengurangi, dan mengolah sampah sejak awal, maka beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan berkurang secara signifikan. Inilah fondasi menuju kota yang bersih dan berkelanjutan,” ujarnya. Pengelolaan Sampah Tidak Lagi Berorientasi di Hilir Selama bertahun-tahun, sistem pengelolaan sampah di berbagai daerah masih didominasi pendekatan pengangkutan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Model tersebut dinilai hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek tanpa menyentuh akar permasalahan. Meningkatnya jumlah penduduk, pertumbuhan kawasan permukiman, aktivitas perdagangan, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap tahun. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya operasional pemerintah, kebutuhan armada pengangkut yang semakin besar, serta semakin terbatasnya kapasitas TPA. Berbagai pengalaman di sejumlah negara menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan harus dimulai dari sumbernya melalui pengurangan, pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang. Karena itu, perubahan sistem menuju pengelolaan berbasis masyarakat dinilai menjadi strategi yang lebih efektif untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan. Lembaga Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Menjadi Kunci Yayasan Kiandra Setia Bangsa menilai pembentukan dan penguatan Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) di tingkat kelurahan menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung reformasi tersebut. LPS diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pengelola pengangkutan sampah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, pemilahan sampah, pengolahan limbah, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan daur ulang dan ekonomi sirkular. Dengan sistem tersebut, masyarakat memperoleh manfaat ganda, yaitu lingkungan yang lebih bersih sekaligus peluang peningkatan pendapatan melalui pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi. Membangun Budaya Lingkungan yang Berkelanjutan Menurut Mulyono Widiarta, keberhasilan reformasi pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Ia menilai bahwa pendidikan lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui sekolah, komunitas, organisasi kemasyarakatan, hingga dunia usaha agar tercipta budaya baru yang menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas lingkungan menjadi faktor utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Mendukung Agenda Pembangunan Berkelanjutan Yayasan Kiandra Setia Bangsa menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai program pelestarian lingkungan melalui edukasi publik, penguatan kelembagaan masyarakat, kampanye pengurangan sampah plastik, pengembangan bank sampah, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi hijau. Program-program tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam menciptakan kota yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan, Kota Pekanbaru diharapkan mampu menjadi contoh daerah yang berhasil menerapkan sistem pengelolaan sampah modern berbasis komunitas, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, produktif, dan nyaman bagi generasi masa kini maupun masa depan. Redaksi Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa Penulis : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia BangsaKategori : Publikasi Ilmiah dan Edukasi PublikKontak : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa Post navigation Merancang Kebijakan Pendidikan yang Fleksibel dan Relevan dengan Dinamika Masa Depan